Make your own free website on Tripod.com
« June 2012 »
S M T W T F S
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
You are not logged in. Log in
ACeHDaILY
Tuesday, 22 February 2005
790.000 Korban Tsunami Butuh Bantuan Pangan Darurat
Topic: BERITA UMUM

Sumber: Acehkita- Banda Aceh, 2005-02-22 00:44:46



Banda Aceh, Acehkita. World Food Programme (WFP) menyatakan dari 2,8 juta penduduk Aceh yang terkena dampak bencana alam tsunami di Aceh, diperkirakan lebih dari 790.000 jiwa di antaranya membutuhkan bantuan pangan darurat.



Menurut Staf Informasi Publik WFP, Innigo Alvares, WFP akan mengupayakan bantuan bagi korban tsunami. Saat ini, WFP telah memobilisasi pemberian bantuan kepada korban tsunami. Selain itu, WFP juga mengaku telah mengirim total bantuan makan ke Aceh 9.658 MT. Bantuan itu diserahkan kepada mereka yang telah kehilangan rumah dan ringgal di kamp-kamp pengungsian. "WFP telah memobilisasi bantuan bagi korban tsunami," kata Innigo kepada wartawan dalam konferensi pers di media center Pendopo Gubernur di Banda Aceh, Senin (21/2).



Selain itu, kata Innigo, pihaknya juga menargetkan penyaluran bantuan kepada para pengungsi yang selama ini tinggal di rumah-rumah famili dan kerabatnya. Pada Januari lalu, kata Innigo, WFP telah membantu sekitar 425 ribu orang yang selamat dari musibah tsunami di Aceh dan Nias, Sumatera Utara. Sementara untuk bulan Februari, WFP mengupayakan akan membantu tak kurang dari 530 ribu jiwa.



Di masa mendatang, WFP akan mengutamakan penyaluran bantuan kepada orang yang rentan terkena penyakit, anak-anak, wanita hamil, perawat, yatim piatu, orang sakit dan lanjut usia.



Selain menyalurkan sendiri bantuan kepada korban tsunami, WFP juga bermitra dengan pemerintah, Palang Merah Indonesia, Save the Children, Action Contre La Faim (ACF), Care Internasional, Mercy Corps, World Vision, Catholic Relief Service dan HELP. [dzie]



Posted by acehdaily at 2:39 AM
16 Warga Blang Mangat Mengaku Dipukul Raider
Topic: HAM
16 Warga Blang Mangat Mengaku Dipukul Raider
SUMBER: Acehkita - Lhokseumawe
Lhokseumawe, Acehkita. Sedikitnya 16 warga Desa Jeuleukat Kecamatan Blang Mangat Lhokseumawe mengaku dirinya dipukul aparat TNI dari Yon 401 Raider. Pemukulan yang terjadi pada Jum'at (4/2) silam itu, diakibatkan setelah pasukan Raider tidak menemukan dua warga yang diklaim terlibat dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dalam sebuah aksi penggerebekan rumah warga yang dicurigai GAM.

Menurut warga setempat, yang tidak mau disebutkan namanya karena alasan keamanan, pada saat itu pasukan TNI tidak menemukan orang yang dicari. Setelah itu 16 warga yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumah warga yang digerebek itu dengan warga lainnya, diperintahkan berkumpul di Masjid Ujong Balee. Saat perintah itulah, 16 warga yang di dalamnya termasuk kepala desa, imam desa dan perangkat desa lainnya, mengalami pemukulan pasukan Raider.

Setelah dikumpulkan di masjid, menurut cerita warga, salah seorang aparat TNI menanyakan keberadaaan Awi dan PN yang diklaim terlibat GAM.

Namun, warga mengaku tidak mengetahui keberadaan dua orang yang sedang dalam pencarian TNI itu. Akibatnya, beberapa warga lainnya dipukul dengan menggunakan kayu dan tangan kosong di dalam masjid.

Kendati mengalami penyiksaan, warga tetap tidak mengetahui keberadaan kedua orang tersebut. Setelah 30 menit dikumpulkan di dalam masjid, mereka disuruh pulang, seraya diwanti-wanti untuk tidak melaporkan kejadian ini kepada siapa pun.

Hingga Minggu (20/2), imam desa, geuchik dan beberapa korban pemukulan lainnya, masih merasakan sakit. Bahkan, beberapa hari setelah kejadian, mereka sempat berobat ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia. "Tapi kondisi masih parah dan sekarang mereka dirawat di rumah sakit," kata seorang warga, yang juga salah seorang korban kepada acehkita, Minggu (20/2).

Sementara di Desa Blang Poroh, Muara Dua, Lhokseumawe, 17 warga mengaku mengalami pemukulan pasukan TNI dari Yonif 400 Raider. Kekerasan itu bermula ketika pasukan TNI tidak menemukan A Wahab, warga yang dituduh GAM, dalam sebuah penggerebekan di rumahnya pada Kamis (10/2).

Lain lagi kasus yang menimpa seorang remaja di Trienggadeng, Pidie. Akibat bercanda dengan seorang anak kecil yang masih berumur tiga tahun, dia terpaksa harus berbaring di rumah sakit. Bahkan, dalam keadaan koma! Pasalnya, yang "digoda" bukan anak sembarang, tapi, anak seorang anggota Brimob. Kejadian pemukulan -mungkin--berasal dari kata-kata ini: "oo, kalau gitu, berarti adek sudah bisa minta dibeliin adik dong sama mama. Mau kan?"

Pasalnya, setelah mendengar perkataan ini, wajah sang istri Brimob itu berubah merah, tanda tidak senang dengan ucapan remaja tadi. Setelah kembali ke rumahnya, beberapa personel Brimob mencari remaja, sebut saja namanya Saiful (17), dan menggelandang ke pos. Setelah keluar dari pos, Saiful koma, tak lama setelah tiba di rumahnya.

Tidak hanya warga Aksi pemukulan yang dilakukan pasukan TNI tidak hanya menimpa warga kampung di pedalaman Aceh. Aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang datang jauh-jauh ke Aceh, juga tidak menjadi jaminan akan luput dari aksi pemukulan ini. Setidaknya demikian yang menimpa Koordinator Government Watch (Gowa) Farid Faqih.

Karena kesalahpahaman dalam pengambilan barang bantuan kemanusiaan di Pangkalan Udara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Faqih dibal-bal Kapten (CKM) Syuib, yang seorang pasukan Polisi Militer Kodam Iskandar Muda divisi kesehatan. Pemukulan itu sendiri terjadi pada akhir Januari 2005 silam.

Pemukulan itu bermula ketika Farid Faqih mengambil barang bantuan kemanusian dan membawa ke gudang penyimpanan posko Gowa di gudang Dolog yang tak jauh dari bandara. Ternyata, barang-barang yang diambil Farid Faqih, mempunyai label tujuan ke Kodam Iskandar Muda.

Menurut keterangan dari Polisi Militer, bantuan itu sampai ke Lanud pada pukul 13.00 WIB, Rabu (26/1). Bantuan Darma Pertiwi itu diterima oleh Kapten Syuib. Sekembali Syuib dari mengambil pengangkut barang, bantuan tersebut tidak lagi berada di tempat. Syuib mencari-cari hingga menemukan bantuan itu sekitar Lanud. Ketika ditemukan, sebut sumber tadi, Farid Faqih berada di sana. Ketika Syuib menanyakan barang bantuan itu punya siapa, ujar sumber, Farid Faqih menjawab, "itu bukan urusan Bapak." Kapten Syuib emosi dan menonjok Farid di wajahnya hingga memar.

Karena dituduh mencuri, Farid Faqih kemudian ditangkap dan ditahan di Mapolresta Banda Aceh. Sejak Kamis (27/1), Farid Faqih dijadikan tersangka. Dia dikalungkan pasal 236 e KUHP tentang Pencurian dan Pemberatan dalam Kondisi Bencana. Menurut pasal itu, dia diancam hukuman maksimal tujuh tahun penjara.

Itu versi militer. Bagaimana dengan versi Farid?
Menurut Daniel Panjaitan, kuasa hukum Farid Faqih, pemukulan yang menimpa kliennya tidak hanya dilakukan oleh seorang pasukan TNI. Menurut keterangan yang diperoleh dari Farid, kata Daniel, yang melakukan pemukulan dan penganiayaan mengancam akan membunuh Farid. Bahkan, terang Daniel, setelah dianiaya oknum TNI, Farid sempat dibawa ke sebuah ruang gelap di suatu tempat di Pangkalan Udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. Selain itu, sebut Daniel, oknum TNI tersebut juga sempat membawa Farid ke sebuah hutan.

"Pada saat kejadian penganiayaan itu, Farid sempat mendengar perkataan, `sudah habisi saja'," ujar Daniel menirukan pengakuan kliennya.

Farid mengaku memang mengambil barang-barang tersebut. Namun, menurutnya, dia sama sekali tidak berusaha mencurinya, karena barang-barang itu tidak bertuan. "Seharusnya ditanya dulu apa salah, apa tidak," sebut Farid Faqih kepada wartawan, Sabtu (29/1).
Wajah Farid memar dan membengkak. Biru beku bekas pemukulan di wajahnya masih terlihat. Lebam di matanya selebar 7x11 centimeter dan lebam di mulutnya selebar 4x4 centimeter.

Kini Farid dirawat intensif di Rumah Sakit Bhayangkara, Medan, Sumatera Utara. Sementara enam anggota Pomdam Iskandar Muda yang terlibat pemukulan, sudah dijadikan tersangka dan berkasnya sudah diserahkan kepada oditur militer, Minggu (13/2).

Kasus sebelum tsunamiDua sampel di atas merupakan kasus pemukulan dan penganiayaan yang dilakukan pascamusibah tsunami di Aceh, saat orang-orang sibuk dengan urusan kemanusiaan dan penanggulangan korban bencana alam gempa dan tsunami. Tentu, akan banyak lagi kasus pemukulan yang dilakukan sebelum tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember tahun silam.

Apa yang dialami 10 warga Merbo Lama, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara, menambah panjang kasus pemukulan dan penganiayaan yang dilakukan oleh pasukan pemerintah, yang seharusnya memberi kenyamanan dan keamanan bagi warga sipil.



Pada Minggu (28/11/04) silam, 10 warga desa dipukul aparat TNI dan Brimob di Desa Geulanggang Baroeh, Tanah Pasir. Informasi yang berhasil dihimpun wartawan di lokasi pada Senin (29/11), aksi tindak kekerasan itu berlangsung pada pukul 06.00 WIB. Saat itu, empat truk reo aparat keamanan meluncur ke Desa Merbo Lama, dengan alasan mencari anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Namun, ketika sampai di Desa Merbo Lama, aparat langsung menggedor rumah warga.



Aparat juga memeriksa rumah warga Merbo Jeurong, Tanjong Dama, dan Desa Geulanggang Baroeh, Tanah Pasir. Semua warga desa, terutama laki-laki, diminta aparat untuk berkumpul di Desa Geulanggang Baroeh.



Menurut penuturan beberapa warga, ratusan warga empat desa bergegas berkumpul di Desa Geulanggang Baroeh. Warga dibariskan dan ditanya tentang keberadaan anggota GAM. Namun, warga mengaku tidak mengetahui keberadaan anggota GAM.



Mendengar jawaban yang diberikan warga, aparat keamanan langsung memisahkan sepuluh warga ke tempat lain. Di dalam kelompok yang dipisahkan itu, terdapat Kepala Desa Merbo Lama Sulaiman Ibrahim. Warga lainnya, kata sumber acehkita, diperintahkan untuk membelakangi warga yang telah dipisahkan itu.



Menurut Sulaiman Ibrahim, aparat menyuruh mereka untuk mengaku terlibat GAM. Namun, tidak ada satu pun di antara mereka yang mengaku terlibat GAM. Karenanya, ujar Sulaiman, aparat memukul dirinya dan warga lainnya, hingga menyisakan memar.



Di antara mereka yang mengalami pemukulan, Sulaiman Ibrahim dan Basyari (17) yang paling parah mendapat penyiksaan. Sementara delapan lainnya, yaitu Samsul Bahri (21), Muslim (19), Rusli (20), Sumardi (28), Askari (22), Fachri (22), M. Husen (29), Irawadi (22), hanya mengalami luka memar biasa. Keseluruhan korban tindak kekerasan ini juga bermata pencaharian sebagai petani dan tidak mengetahui dengan urusan politik. Sedangkan dua warga lainnya, yaitu Marzuki (35) dan Hasballah (40), penduduk Desa Merbo Jurong, Tanah pasir, dibawa bersama aparat keamanan.



Kasus lainnya yang lebih menyayat hati, terjadi di Desa Tanjong Beuridi, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Belasan warga mengalami penyiksaan yang dilakukan pasukan TNI dari Yonif 406/Candra Kusuma yang berpos di Desa Blang Mane, Peusangan.



Pemukulan terhadap warga, sebut Samsul Bahri (30), dilakukan setelah ada orang tak dikenal melintas di kawasan itu. Samsul Bahri sendiri mengalami penyiksaan bertubi-tubi selama tiga jam, yang dilakukan dengan memakai batang ubi (singkong). Ketika itu, Samsul Bahri dipukul di bagian dada dan kaki.



Pemukulan terhadap warga terjadi karena alasan yang sangat sepele. Pasalnya, pada Minggu (17/10), dua orang tidak dikenal muncul di desa itu. Kebetulan, pada hari itu ada sejumlah aparat yang sedang beroperasi hingga dua orang tadi dikejar. Namun, aparat tidak berhasil menemukan dua orang itu yang telah duluan kabur ke semak-semak di kawasan Dusun Tanjong Baro.



Karena tidak menemukan dua orang tidak dikenal, Samsul Bahri menuai pemukulan. Selain Samsul Bahri, empat lainnya warga lainnya juga mengalami pemukulan, yaitu Tgk. Yusuf (Kepala Dusun), Abdullah (Imuem Dusun), Ismail dan Ismadi. "Kelima mereka mendapat tuduhan yang sama, yaitu membantu GAM dengan memberi makan," sebut seorang warga.



Akibat tak tahan dengan kekerasan yang dilakukan pasukan tersebut, sekitar 40 jiwa atau 8 kepala keluarga (KK) warga Dusun Tanjong Baro Desa Tanjong Beuridi, Kecamatan Peusangan, Bireuen, terpaksa mengungsi ke meunasah (surau) setempat, Kamis (21/10/04).



"Mereka selalu menuduh warga sebagai pemasok logistik GAM," kata salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya kepada acehkita, Jum'at (22/10).



Itulah serangkaian kasus pemukulan dan penganiayaan yang dilakukan pasukan TNI dan Brimob. Jika merunut ke belakang, tentu rangkaian ini akan bertambah panjang. Sampai kapankah ini akan terjadi?


Posted by acehdaily at 2:35 AM
Pengungsi Seunuddon Keberatan Direlokasi
Topic: PENGUNGSI
Sumber : acehkita.com
Aceh Utara, ACeHDaILY: Pengungsi di kamp Desa Alue Baroh dan Cot Trueng, Kecamatan Seunuddon menyatakan keberatannya terhadap rencana relokasi pengungsi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Keberatan itu menyusul ditetapkannya Desa Alue Caplie sebagai tempat relokasi. Menurut pengungsi, penetapan itu dilakukan secara sepihak oleh Pemkab Aceh Utara.

Di kamp Desa Alue Baroh saat ini terdapat 1.287 jiwa dan di kamp pengungsi Cot Trueng terdapat 1.045 jiwa. Mereka berasal dari Desa Ulee Rubek Timu, Teupin Kuyun, Matang lada, Meunasah Sagoe, Matang Puntong, Lhok Puuk, dan Matang Panyang.

Beberapa pengungsi yang ditemui acehkita mengatakan, penempatan ke lokasi baru itu sangat meresahkan warga. Soalnya, lokasi penempatan baru itu sangat jauh dari desa mereka, sehingga menyulitkan mereka untuk bisa beraktivitas dan mencari rezeki. "Kalau dekat dengan desa kami, paling tidak bisa membersihkan rumah dan melihat segala sesuatu yang bisa menghasilkan uang untuk biaya kebutuhan sehari-hari," sebut seorang pengungsi yang tidak mau disebutkan namanya.

Mereka mengharapkan kepada Pemerintah utuk dapat merelokasi mereka ke daerah yang berdekatan dengan kampung mereka.

Kepala Humas Pemkab Aceh Utara, Azhari Hasan, mengatakan jika penetapan tempat relokasi pengungsi merupakan keputusan sepihak Pemkab. "Tidak ada pemaksaan terhadap warga untuk direlokasi," kata Azhari kepada wartawan, Minggu (30/1).

Posted by acehdaily at 2:02 AM
Updated: Tuesday, 22 February 2005 2:05 AM
Lagi, Pengungsi Di Pukul Marinir
Topic: HAM

Reporter: AHMED
Aceh Utara, ACeHDaIlY: Satu orang pengungsi desa Alue Baroeh Kecamatan Seunundon Aceh Utara, mengaku dipukul pasukan TNI dari yonif 7 brigif 3 marinir yang berposko di desaTeupin Kuyun kecamatan setempat. Karena setelah di Introgasi, mengaku tidak mengetahui keberadaan GAM.
Pengungsi yang mengalami pukulan tersebut adalah Abdul karim (35) tahun asal desa Teupin Kuyun Kecamatan Seunundon Aceh Utara yang mengungsi ke desa Alue Baroeh Kecamatan setempat. Kepada wartawan, Minggu (20/2) mengatakan, Insiden pemukulan yang dialaminya terjadi pada pukul 10 Wib pagi, setelah TNI dari kesatuan marinir memintanya untuk pulang kedesanya.
Setelah tiba didesa, lelaki yang menjabat ketua pemuda desa setempat diminta menghadap kepos marinir, sampai disana, tanpa disangka sebelumnya langsung diinterogasi, diminta untuk memberitahu keberadaan gam, yang menurut klaim TNI itu sering singgah di desanya.
Abdul Karim yang sejak, Minggu (26/2) tahun lalu sudah mengungsi dan meninggalkan desa. setelah desanya disapu tsunami, mengaku tidak pernah melihat adanya anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di desanya.
Keterangan yang diberikan, Abdul karim tidak membuat Karim dilepas, malah, pertanyaan kedua di layangkan pasukan pemerintah, kali ini, bukan lagi dengan pertanyaan, namun, pasukan pemerintah sudah mulai menuding, sembari melayangkan pukulan.
Saat itupula pertanyaan demi pertanyaan diarahkan ke Karim. Karim juga di tuduh sering melihat GAM dan singgah didesanya. namun Karim tetap juga mengaku tidak tau, kekesalan karena tidak sesuainya jawaban dengan yang diharapkan pasukan pemerintah, Karim kembali di pukul hingga berkali kali oleh personil TNI dari Yon 7.

Akibat mengalami pemukulan, wajahnya dan tubuhnya dalam kndisi memar, dibagian yang terkena terasa sakit dan kondisi badannya sangat lemah, dia juga diminta untik mengangkat barbell, saat itulah kedua pergelangan tangannya kambuh dan sakit.
"saya juga diminta mereka untuk mengankat barbell, sanaat itu tangan saya sangat sakit, " Ujar Karim Pada wartawan.
Karim juga menambahkan setelah episode pemukulan terjadi terhadapnya, dia tidak langsung dibolehkan kembali ke kamp pengungsiaan, namun ia sempat disekap selama dua jam oleh pasukan marinir dibawah pimpinan pos Lettu Ahmadi itu.
Berobat.
Setelah sampai dikamp, Karim yang dikenal dekat dengan warga pengungsi lain mencetritakan perilgal apa yang diterima setelah diminta pulang pasukan Marinir.
Ia memperlihatkan memar dibagian dada dan punggungnya pada warga. Atas informasi itu warga pengungsi mengusulkan kepada Karim untuk berobat ke posko kesehatan milik muslem Canada, yang berposko di lokasi pengungsi setempat.
Karim, mengikuti usul warga tersebut. Proses antrian untuk mendapatkan obat diikutinya, bahkan saat antri menunggu menunggu jatah berobat, ia sempat pening dan tidak sanggup lagi, untuk berdiri. Namun karena tujuan mencari obat dan agar kondisi fisiknya kembali membaik ia juga memilih untuk coba bertahan.
Hingga, Minggu (20/1) rasa sakit dibeberapa bagian tubuhnya masih terasa, bahkan kedua tangannya susah untuk diangkat dan digerakkan. (*)

Posted by acehdaily at 1:49 AM

Newer | Latest | Older